Model Bisnis Perusahaan Sukanto Tanoto yang Ramah Lingkungan Jadi Bahan Riset

Model Bisnis Perusahaan Sukanto Tanoto yang Ramah Lingkungan Jadi Bahan Riset

Sebuah sekolah di National University of Singapore (NUS) yaitu Sekolah Kebijakan Publik Lee Kuan Yew (LKYSPP) menampilkan sebuah studi kasus berjudul “Model Perlindungan Produksi untuk Operasi Pulp dan Kertas Berkelanjutan di Riau, Indonesia” dan dalam studi kasus ini menampilkan anak perusahaan milik Sukanto Tanoto, APRIL grup. Dalam hal ini, mereka menceritakan bagaimana APRIL grup mengambil langkah-langkah untuk menyeimbangkan masalah ekonomi dan lingkungan dari produksi kertas sambil mempertimbangkan banyak pemangku kepentingan, termasuk pemerintah Indonesia, masyarakat lokal, dan konsumen.

Adapun diantaranya model perlindungan produksi milik APRIL grup, yang mana merupakan pendekatan APRIL grup dalam pengelolaan lanskap dan masyarakat merupakan bagian dari proses operasi yang berkelanjutan. Dalam hal ini, APRIL grup bertugas untuk mengidentifikasi, mengelola, dan menyeimbangkan kepentingan berbagai aktor dalam lanskap, memberikan telakan tambahan pada upaua konservasi dan restorasi perusahaan, serta strategi pengelolaan kebakaran. Mereka juga melibatkan masyarakat merupakan aspek penting untuk program Restorasi Ekosistem Riau (RER).

RER sendiri adalah sebuah proyek kolaborasi yang menyatukan kelompok sektor swasta dan publik untuk melindungi, menilai, memulihkan dan mengelola sekitar 150.000 hektar lahan gambut di Semenanjung Kampar Indonesia. RER bekerja dengan masyarakat untuk mencegah degradasi hutan lebih lanjut melalui saluran drainase, perburuan dan pembakaran hewan. RER bekerja dengan LSM lokal seperti Bidara untuk mengajar masyarakat alternatif mata pencaharian seperti pertanian cabe.

Pada strategi kebakaran APRIL grup memprioritaskan kolaborasi dan pendidikan masyarakat. APRIL grup sendiri membentuk Program Desa Bebas Api (FFVP) untuk memberikan imbalan infrastruktur ke desa-desa yang menunjukkan rekor bebas api mereka. Selain komunitas, perusahaan juga bekerja dengan pemangku kepentingan lain untuk mendapatkan masukan dan perspektif mereka. Dari perspektif bisnis, mereka ingin memastikan semua praktik mereka berkelanjutan dari waktu ke waktu. Itu berarti mengelola sumber daya untuk ilmu pengetahuan yang paling dikenal untuk memastikan bisnis maju di masa depan.

Selain yang disebutkan di atas, sebagai bagian dari komitmen perusahaan untuk keberlanjutan, mereka membentuk Komite Penasihat Stakeholder (SAC) yang terdiri dari para profesional kehutanan dan pembangunan sosial yang independen. Mereka memantau dan memberikan umpan balik dari implementasi Kebijakan Manajemen Hutan Berkelanjutan APRIL (SFMP 2.0). Hal ini diikuti oleh pembentukan Kelompok Kerja Pakar Gambut Independen (IPEWG) yang memberikan perusahaan saran dan penilaian sejawat dalam upaya pengelolaan lahan gambutnya.

Dalam hal ini, penulis Thean berkomentar tentang keterlibatan APRIL terhadap berbagai pemangku kepentingannya bahwa studi kasus ini menceritakan kisah tentang upaya satu perusahaan untuk menyeimbangkan tuntutan pertumbuhan dan keberlanjutan di Sumatra, Indonesia di tengah peraturan pemerintah, pengawasan publik dan tekanan sosial ekonomi.

Dan itulah model bisnis perusahaan Sukanto Tanoto yang ramah lingkungan jadi bahan riset.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail